Kisah Iram Dzatil Imad

Friday, June 8, 20120 komentar

“Adapun kaum ‘Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus. Maka, kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan sekan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka, kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal diantara mereka”. (Q.S Al-Haqqah, 69: 6-8)
Kaum lain yang dimusnahkan dan diberitakan dalam berbagai surat dalam Al-Qur’an adalah kaum ‘Ad yang disebutkan setelah kaum Nuh. Nabi Nuh yang diutus untuk kaum ‘Ad memerintahkan mereka, sebagaimana yang telah dilakukan nabi-nabi lainnya untuk beriman kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dan mematuhi dirinya sebagai Nabi pada waktu itu. Namun, mereka mennggapinya dengan rasa permusuhan. Dia didakwa sebagai orang bodoh, pembohong dan berusaha mengubah apa yang telah dilakukan para leluhur mereka.

Mereka sangat beruntung karena letaknya yang strategis menjadi perantara dalam perdagangan rempah-rempah antara India dengan tempat-tempat di utara semenanjung Arab. Disamping itu, orang-orang yang berdiam memproduksi dan mendistribusikan ‘frankincense” sejenis getah wangi dari pepohonan langka. Karena sangat disukai oleh masyarakat kuno, tanaman ini digunkan sebagai dupa dalam berbagai ritus keagamaan. Pada saat itu tanaman tersebut setidaknya sama berharganya dengan emas.

Cirri menarik lainnya dari bangunan-bangunan di Shabwah adalah tiang-tiang yang sangat rumit. Tiang-tiang di Shabwah tampak sangat unik karena bundar dan disusun dalam serambi-serambi melengkung. Sementara, semua situs di Yaman sejauh itu baru ditemukan memiliki tiang-tiang monolit berbentuk persegi. Orang-orang Shabwah tentunya mewarisi gaya arsitektur daripada leluhurnya, kaum ‘Ad Fotius, Patriach Yunani Bizantium dari Konstantinopel pada awal abd ke-9M melakukan penelitian besar-besaran mempunyai akses pada manuskrip Yunani kuno yang sudah musnah pada saat ini, dan khususnya karya Agatharachides (132 SM) tentang Laut Eritrea (Laut Merah). Fotius menyebutkan dalam salah satu artikelnya “ditawarkan bahwa mereka (bangsa Arab Selatan) telah membangun banyak tiang berlapis emas atau terbuat dari perak. Ruangan-ruangan diantara tiang-tiang tersebut sangat mengagumkan untuk dilihat,” menara menara itu disebut sebagai bentuk khas kota ‘Ubar, dan karena Iram disebut mempunyai menara-menara atau tiang-tiang maka kota kaum ‘Ad yang disebutkn dalam Al-Qur’an adalah kata Iram.

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain. (Q.S Al-Fajr, 89: 6-8)

Tidak diragukan lagi, sangat logis untuk menduga bahwa bangsa Hadram telah mewarisi keunggulan arsitektur ini dari pendahulunya kaum ‘Ad. Hud berkata kepada kaum ‘Ad ketika memperingatkan mereka:
“Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main? Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dalamnya)? “(Q.S Asy-Syuara, 26: 128-129)
Kaum yang menunjukkan permusuhan kepada Hud dan melawan Allah itu enar-benar dibinasakan. Badai pasir yang mengerikan membinasakan kaum ‘Ad seakan-akan mereka “tidak pernah ada”.

Sumber: Syaamil-Qur'an. The Miracle
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SAHABAT PENA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger