Pages

Monday, October 22, 2012

Penelitian


Penelitian. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa inggris research. Kata research sendiri berasal dari kata re yang berarti “kembali” dan to search yang berarti mencari. Jadi arti sebenarnya dari research adalah “mencari kembali”.
Pengertian menurut para ahli.

1.    Penelitian merupakan suatu metode untuk menemukan kebenaran yang juga merupakan pemikiran kritis (critical thinking). Penelitian ini meliputi pemberian definisi dan redefinisi terhadap masalah, memformulasikan hipotesis tau jawaban sementara, membuat kesimpulan dan sekurang-kurangnya mengadakan pengujian yang hati-hati untuk menentukan apakah ia cocok dengan hipotesis (Woody, 1927).

2.   Penelistian adalah suatu pencarian fakta menurut metode objektif yang jelas untuk menemukan hubungan antarfakta dan menhasilkan dalil atau hokum (John, 1949).

3.  Peneliatian merupakan suatu metode untuk menemukan kebenaran, sehingga penelitian juga merupakan metode berpikir secara kritis (Whitney, 1960)

4.    Penelitian tidak lain dari suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut (Hillway, 1956)

5.  Penelitian adalah pencarian sesuatu (inquiry)  secara sistematis dengan penekanan bahwa pencarian ini dilakukan terhadap masalah-masalah yang dapat dipecahkan (Parson, 1946).

Dari beberapa pengertianpenelitian tersebut maka dapat disimpulkan “penelitian adalah sesuatu yang dilakukan untuk mencari tahu suatu masalah dengan memberlakukan masalah tersebut misalnya, memeriksa, mengusut, menelaah, dan mempelajarinya dengan cermat serta memformulasikan hipotesis sehingga diperoleh sesuatu untuk mencapai kebenaran dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki”.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan penelitian, diantaranya.

1.    Sistematis
Penelitian harus dilaksanakan sesuai dengan pola mulai dari yang sederhana sampai dengan yang paling kompleks sehingga tercapai tujuan secara efektif dan efisien.

2.    Terencana
Penelitian dilaksanakan dengan unsure kesengajaan dan telah dipikirkan langkah-langkah pelaksanaan untuk penelitian

3.    Ilmiah
Penelitian itu harus mengikuti konsep ilmiah artinya mengikuti cara yang telah ditentukan, yaitu prinsip yang digunakan untuk memeproleh ilmu pengetahuan.

Secara umum penelitian mempunyai empat tujuan pokok, yaitu.

1.    Eksploratif
Suatu penelitian bertujuan menemukan hal pengetahuan yang baru dalam bidang ilmu tertentu

2.    Verifikatif
Suatu penelitian yang dilakukan untuk menguji kebenaran sesuatu (pengetahuan) dalam bidang yang telah ada

3.    Pengembangan
Melakukan pengembangan terhadap ilmu pengetahuan yang telah ada

4.    Tujuan penulisan untuk karya ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi.

Thursday, October 11, 2012

Mungkinkah Semut Menjadi Penjaga Pintu?


Mungkinkah Semut Menjadi Penjaga Pintu. Saat menganalisis detail sistem dalam koloni semut, kita merasakan kekuatan kehendak tak tampak itu, yang menetapkan dan mengatur sistem ini, secara lebih konkret. Marilah kita lihat detail-detail ini.

Biasanya hubungan sarang semut dengan dunia luar adalah melalui lubang kecil yang hanya cukup untuk seekor semut. Melewati lubang ini perlu "izin". Dalam koloni ada sejumlah kecil semut yang "bertugas sebagai penjaga pintu".

"Penjaga pintu" bertugas menjadi sumbat-hidup dengan bentuk kepalanya yang pas dengan lubang masuk. Lebih lanjut, warna dan desain kepalanya sama dengan warna kulit pohon di lingkungan sekitar. Penjaga pintu berjam-jam duduk di lubang masuk dan hanya memperbolehkan masuk semut-semut yang terdeteksi termasuk koloninya sendiri.

Ini berarti gagasan memiliki penjaga pintu untuk menjaga bangunan telah dipraktikkan oleh semut penjaga pintu, sebelum manusia. Semut ini menutupi lubang masuk dengan bagian terkuat tubuhnya, menyamarkan dirinya, dan melarang masuk semut yang tidak mengucapkan "kata kunci" yang benar.

Jelas sekali kenyataan bahwa kepala semut penjaga tadi pas dengan lubang, warna dan polanya sesuai dengan lingkungan, dan ia menolak masuk siapa pun yang tidak ia kenal, tak mungkin dilakukan atas kemauannya sendiri. Jelas ada "tokoh intelektual" yang mendesain tubuh semut dalam bentuk ini dan mengilhamkan tugas yang dilakukan semut tersebut. Mengatakan bahwa semut dapat memikirkan sendiri tugas ini dan bekerja sebagai penjaga pintu tanpa kehilangan ke-sabaran dan tanpa menyerah, jelas bukan penjelasan yang masuk akal.

Mari kita pikirkan: Mengapa seekor semut mau menjadi penjaga pintu? Jika boleh memilih, untuk apa ia mengambil tugas yang paling merepotkan dan memerlukan pengorbanan terbesar itu? Jika boleh memilih, tentu ia akan mengambil pekerjaan yang akan memberinya lingkungan ternyaman dan pelayanan terbaik. Sebenarnya, pilihan ini terjadi dengan ketetapan Allah. Dan semut penjaga pintu melaksanakan tugasnya dengan penuh ketaatan. Hanya sang pencipta semut yang mungkin telah mendesain kehidupan koloni yang demikian sempurna, untuk menunjukkan sisi seni-Nya yang menakjubkan dan telah memberi tugas-tugas khusus kepada koloni semut yang hidup dengan sistem ini.

Menurut teori evolusi, semut mestinya berkembang dalam setiap segi dan mereka mestinya mencoba memasuki kasta yang memberi mereka hidup yang lebih nyaman. Akan tetapi, semut penjaga pintu tidak berupaya ke arah ini, sebaliknya melaksanakan tugas yang diilhamkan itu tanpa salah sepanjang seluruh hidup mereka.

Sumber: info@Harunyahya[dot]com

Keajaiban Pada Semut


Keajaiban Pada Semut. Semut adalah makhluk hidup dengan populasi terpadat di dunia. Perbandingannya, untuk setiap 700 juta semut yang muncul ke dunia ini, hanya terdapat 40 kelahiran manusia. Tentu masih banyak informasi lain yang menakjubkan bisa dipelajari tentang makhluk ini.

Semut merupakan salah satu kelompok yang paling "sosial" dalam genus serangga dan hidup sebagai masyarakat yang disebut "koloni", yang "terorganisasi" luar biasa baik. Tatanan organisasi mereka begitu maju sehingga dapat dikatakan dalam segi ini mereka memiliki peradaban yang mirip dengan peradaban manusia.

Semut merawat bayi-bayi mereka, melindungi koloni, dan bertempur di samping juga memproduksi dan menyimpan makanan. Bahkan ada koloni yang melakukan pekerjaan yang bersangkutan dengan "pertanian" atau "peternakan". Dengan jaringan komunikasi yang sangat kuat, hewan ini begitu unggul sehingga tak dapat dibandingkan dengan organisme mana pun dalam segi spesialisasi dan organisasi sosial.

Di masa kini, para peneliti yang cerdas dan berpendidikan tinggi bekerja siang-malam dalam pelbagai lembaga pemikiran untuk merumuskan organisasi sosial yang sukses dan menemukan solusi yang langgeng untuk berbagai masalah ekonomi dan sosial. Para ideolog juga telah menghasilkan berbagai model sosial selama berabad-abad. Namun secara umum, belum terlihat tatanan sosial sosioekonomis yang berhasil dicapai melalui segala upaya intensif ini. Karena sejak dulu konsep tatanan masyarakat manusia didasarkan pada persaingan dan kepentingan individu, ta-tanan sosial yang sempurna tidak mungkin tercapai. Sementara, semut-semut telah menjalani sistem sosial yang ideal bagi mereka selama jutaan tahun hingga hari ini.

Lalu, bagaimana makhluk kecil ini membentuk tatanan seperti itu? Jawaban untuk pertanyaan ini jelas harus dicari.








Fosil semut yang berusia 80 juta tahun. Fosil ini jelas menunjukkan bahwa semut tidak berubah sama sekali selama 80 juta tahun
Para evolusionis mencoba menjawab pertanyaan ini dengan klaim bahwa semut telah berevolusi 80 juta tahun yang lalu dari Tiphiidae, sebuah genus purba rayap, dan mulai bersosialisasi 40 juta tahun yang lalu secara seketika, "atas keinginan sendiri" dan membentuk tingkat tertinggi dalam evolusi serangga. Namun, para evolusionis ini tidak menjelaskan sama sekali apa penyebab perkembangan sosialisasi ini dan bagaimana prosesnya. Perlu dicatat, mekanisme dasar evolusi mengharuskan makhluk hidup saling bertarung hingga titik terakhir, untuk kelangsungan hidup masing-masing, oleh karena itu setiap genus serta setiap individu di dalamnya hanya bisa memikirkan dirinya sendiri dan anaknya. (Mengapa dan bagaimana ia mulai memikirkan anaknya juga merupakan jalan buntu bagi Evolusi, tetapi hal ini kita abaikan dulu). Tentu saja, bagaimana "hukum evolusi" ini dapat membentuk sistem sosial yang berpusat pada pengorbanan, tidak terjawab.
Pertanyaan yang harus dijawab tidak hanya itu. Mungkinkah makhluk ini, yang berat sel saraf dari sejuta ekornya hanya 20 gram, telah mengambil keputusan untuk bersosialisasi dalam kelompok "secara begitu saja"? Atau, mungkinkah mereka berkumpul dan menetapkan peraturan untuk sosialisasi ini setelah mengambil keputusan? Andaipun kita anggap ini mungkin, mungkinkah bagi mereka semua untuk mematuhi sistem baru ini tanpa kecuali? Apakah mereka lalu membentuk tatanan sosial yang maju dengan mendirikan koloni dengan anggota berjuta-juta ekor semut, setelah mengatasi semua kemustahilan ini?
Lalu bagaimana "sistem kasta" muncul dari pergumulan ini? Pertama, pertanyaan ini harus dijawab: Bagaimanakah berkembangnya perbedaan antara ratu dan pekerja? Tentang hal ini para evolusionis berpedapat bahwa sekelompok pekerja meninggalkan pekerjaannya dan mengembangkan fisiologi yang berbeda dengan semut pekerja lain, dengan cara mengalami variasi genetis dalam masa panjang. Namun, kita lalu dihadapkan pada pertanyaan bagaimana para "calon ratu" tersebut men-dapat makanan selama masa transformasi ini. Semut ratu tidak pernah mencari makanan. Mereka dibawakan makanan oleh pekerja. Sebagian pekerja mungkin menganggap dirinya sebagai "ratu", tapi bagaimana dan mengapa para pekerja lain menerima hierarki ini? Selanjutnya, mengapa mereka mau memberi makan ratu ini? "Perjuangan hidup" yang mereka jalani, menurut "evolusi", mengharuskan mereka hanya memikirkan diri sendiri.
Semua serangga melewatkan sebagian besar waktunya mencari ma-kan. Mereka mencari dan memakan makanan, lalu mereka lapar lagi, dan kembali pergi mencari makan. Mereka juga lari dari bahaya. Jika kita menerima evolusi, kita juga harus menerima bahwa dulu semut juga hidup "secara individual", tetapi pada suatu hari, jutaan tahun yang lalu, mereka memutuskan untuk tersosialisasi. Maka muncul pertanyaan, bagaimana mereka "memutuskan" untuk "membentuk" tatanan sosial ini tanpa komunikasi yang sama di antara mereka, karena menurut evolusi, komunikasi adalah konsekuensi dari sosialisasi. Selanjutnya, persoalan bagai-mana mereka mengembangkan mutasi genetik yang diperlukan untuk sosialisasi ini tidak memiliki penjelasan ilmiah apa pun.
Semua argumen ini membawa kita pada satu titik: Klaim bahwa semut mulai "bersosialisasi" pada suatu hari jutaan tahun yang lalu melanggar semua aturan dasar logika. Satu-satunya penjelasan yang mungkin adalah: tatanan sosial, yang akan kita lihat perinciannya dalam bab-bab berikut, diciptakan bersamaan dengan semut itu sendiri; dan sistem ini tidak berubah sejak koloni semut yang pertama di bumi, hingga hari ini.
Saat menyebutkan lebah yang tatanan sosialnya mirip dengan semut, Allah menyatakan dalam Al Quran bahwa tatanan sosial ini telah "diwahyukan" kepada mereka:
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)." Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (Surat an-Nahl: 68-69)
Ayat ini menyampaikan pesan bahwa segala sesuatu yang dilakukan lebah madu diatur oleh "wahyu" yang diberikan Allah kepada mereka. Sesuai dengan itu, semua "rumah" atau sarang dan, karenanya, seluruh tatanan sosial dalam sarang ini dan semua pekerjaan yang mereka lakukan untuk membuat madu, dimungkinkan oleh ilham yang diberikan Allah kepada mereka.
Ketika melihat semut, kita melihat bahwa keadaan mereka tidak ber-beda. Allah juga telah mengilhami mereka dengan tatanan sosial dan mereka menurutinya secara mutlak. Inilah sebabnya setiap kelompok semut melaksanakan tugas yang ditugaskan kepadanya secara sempurna dan dengan kepasrahan mutlak dan tidak menuntut lebih.
Dan inilah hukum alam. Di alam tak ada "pertarungan untuk kelangsungan hidup" yang acak dan kebetulan, seperti yang diklaim evolusi, tidak pernah pula ada di masa dulu. Sebaliknya, semua makhluk hidup memakan "makanan" yang ditentukan untuk mereka dan melakukan tugas yang ditugaskan Allah kepada mereka. Karena "tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya" (Surat Hud: 56) dan "sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki" (Surat Adz-Dzariyat: 58).

Sumber: info@Harunyahya[dot]com

Tuesday, October 9, 2012

Yoghurt


Yoghurt. Yoghurt atau yogurt adalah dairy product yang dihasilkan melalui fermentasi bakteri pada susu. Berbagai macam jenis susu yang digunakan untuk membuat yoghurt, namun produksi yoghurt yang modern didominasi oleh susu sapi. Pembuatan yoghurt adalah proses fermentasi dari gula susu (laktosa) menjadi asam laktat yang menyebabkan tekstur yoghurt menjadi kental. Biasanya yaghurt dijual dengan rasa buah, vanila, atau coklat, tapi ada juga tanpa penambahan rasa (plain).

Yoghurt dibuat dengan menambahkan bakteri yang menguntungkan ke dalam susu yang tidak dipasteurisasi (untuk mengatur keseimbangan antara bakteri
dan enzim dari susu) pada suhu dan kondisi lingkungan yang dikontrol. Bakteri akan mengolah gula susu alami menjadi asam laktat. Hal itu akan meningkatkan keasaman sehingga menyebabkan protein susu menyusut menjadi masa yang padat atau kental. Peningkatan keasaman (pH 4-5) juga mencegah proliferasi (perbanyakan sel) dari bakteri patogen lainnya. Umumnya kultur yoghurt melibatkan dua atau lebih bakteri yang berbeda untuk proses fermentasi, biasanya yaitu Streptococcus salivarius dan thermophilus dan genus Lactobacillus, seperti L.acidophilus, bulgaricus, casei dan bifidus (Nanda, 2008)

Bukti bahwa produk susu budidaya telah diproduksi sebagai makanan selama paling sedikit 4500 tahun, sejak milenium ke-3 SM. Yoghurt paling pertama kemungkinan terfermentasi secara spontan oleh bakteri liar yang hidup pada tas kulit kambing yang dibawa oleh bangsa Bulgar, orang nomadik yang mulai bermigrasi ke Eropa pada abad ke-2 M dan akhirnya menetap di Balkan pada akhir abad ke-7. Sekarang, banyak negara memiliki yoghurtnya sendiri, walaupun sampai sekarang belum ada bukti yang jelas mengenai siapa yang menemukan yoghurt (Anonima, 2009).

Teori bahwa yoghurt digunakan oleh orang-orang Turki kuno didasarkan pada buku Diwan Lughat al-Turk oleh Mahmud Kashgari dan Kutadgu Bilig oleh Yusuf Has Hajib yang ditulis pada abad ke-11. Pada kedua buku, kata yoghurt disebutkan dan digambarkan sebagaimana yang digunakan oleh orang Turki nomadik, dengan kata yoghurt digambarkan dalam berbagai bagian. Juga, pertama kali orang Eropa mengenal yoghurt dapat dilihat pada sejarah klinik Perancis ketika Francis I menderita diare yang mematikan dan tidak ada dokter Perancis yang mampu menyembuhkannya. Namun, sekutunya Suleiman si Hebat mengirim seorang dokter, dan dengan bantuan yoghurt ia dapat disembuhkan dan orang Eropa dipercaya mengenal yoghurt untuk pertama kalinya dengan insiden itu.

Yoghurt tetap menjadi makanan di Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Barat, Eropa Tenggara dan Eropa Tengah hingga 1900 (Anonima, 2009).
Yogurt pada awalnya adalah produk yang tanpa disengaja dihasilkan oleh para pengembara saat melintasi padang pasir di Asia Barat Daya. Setelah dicicipi ternyata rasanya yang asam menyegarkan lebih digemari, bahkan lebih awet daripada susu segar. Salah satu situs internet sebuah universitas di Kanada menyebutkan bahwa yogurt berasal dari Bulgaria, sehingga salah satu dari kedua bakteri yang ditemukan aktif pembentuk yogurt dinamai  L. bulgaricus. Mungkin saja maksud mereka adalah ditemukan pertama kali pada masa modern ini dalam suatu penelitian ilmiah. 

Komposisi dari yogurt mirip dengan susu, tetapi Yogurt mengandung vitamin B-kompleks khususnya thiamin (vitamin B1) dan riboflafin (vitamin B2) serta beberapa asam amino yang lebih tinggi.  Pada prosedur pembuatan yogurt dapat ditentukan 3-5% susu skim kedalam susu seger sebelum diinokulasi starter kultur.  Hal ini dapat meningkatkan nilai gizi yogurt dan memberikan hasil dengan konsistensi dan bentuk yang lebih baik (Malaka, 2007)

 Tabel Komposisi Berbagai Jenis Yogurt
Komposisi
(unit/ 100 gr)
Yogurt
Full Fat
Yogurt
Low Fat
Yogurt
Fruit
Energi (kal)
72
64
98
Protein (g)
3,9
4,5
5,0
Lemak (g)
3,4
1,6
1,25
Karbohidrat (g)
4,9
6,5
18,6
Kalsium (g)
145
150
176
Fosfor (mg)
114
118
153
Natrium (mg)
47
51
-
Kalium (mg)
186
192
254
 Sumber : Malaka, 2007

Reference.
Anonima.  2009.  Yogurthttp://yogurrtwikipediaindonesia.  Diakses 18 November 2000
Nanda.  2008.  Yogurt.  http://pemanfatanyogurt.com.  Diakses 21 November 2009
Malaka, R., 2007. Ilmu dan Teknologi pengolahan Susu. Yayasan Citra Emulsi, Makassar

Monday, October 8, 2012

Krupuk Kulit Ceker Ayam.


Krupuk Kulit Ceker Ayam. Kulit adalah hasil sampingan dari pemotongan ternak, merupakan organ tubuh paling luar yang dipisahkan saat pengulitan pada proses pemotongan telah selesai. Kulit ternak mudah mengalami kerusakan jika di biarkan begitu saja, sehingga kualitas kulit akan jadi menurun. Kulit cakar ayam berpotensi untuk dijadikan sebagai kerupuk kulit karena di lihat dari kandungan gizinya dimana kandungan air 66%, protein kasar 22%, lemak 5,5%, abu 3,5% dan substansi lainnya 3% sehingga kulit ceker ayam yang dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan sebagai bahan camilan yang lezat, gurih dan bergizi.

Sejak dulu, kulit telah dimanfaatkan sebagai alas kaki, pakaian, tenda, alat tulis menulis, bahan penutup luka, bahan gendang dan lain-lainnya. Namun, kebanyakan orang belum mengetahui atau mengenal manfaat dari kulit kaki ayam, dimana kulit tersebut dapat di olah menjadi bahan makanan. Meskipun saat ini sebagian orang sudah mempunyai ketrampilan dalam mengolah kulit kaki ayam, namun kegiatan pengolahan kulit tersebut hanya terdapat di daerah daerah tertentu. Hal ini di sebabkan oleh sebagian masyarakat belum mengetahui tekhnik pengolahan kulit, manfaatnya, terutama sebagai bahan pangan seperti krupuk kulit.

Ceker ayam (Sank) adalah suatu bagian dari tubuh ayam yang kurang diminati, yang terdiri atas komponen kulit, tulang, otot, dan kolagen sehingga perlu diberikan sentuhan  teknologi untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Selama ini, ceker ayam baru dimanfaatkan sebagai campuran sup dan krupuk ceker. Nilai tambah dari kedua  produk tersebut masih rendah. Salah satu komponen ceker ayam yang berpotensi untuk  dikembangkan adalah kulit kaki ayam.

Karpet Merah Untuk Ibu Hamil


Karpet Merah Untuk Ibu Hamil. Tidak dapat dipungkiri ketika kaum Hawa sedang dilanda kebahagiaan yang penuh dengan momen yaitu “Hamil”. Alangkah senangnya hati ini bak di surge,,,hehehehe…. Yah itulah anugerah terindahNya yang diberikan. Sebagai kaum Hawa telah dikodratkan menjalani kehamilan hingga 9 bulan 10 hari lamanya (bisa jadi cepat ataupun lambat).
Hal yang paling membahagiakan rasanya kaum Hawa bak Ratu di hadapan suaminya, disayang, dimanja, bahkan sang suami pun selalu mencium perut istrinya agar si Ibu dan si janin merasakan kasih sayangnya. Hati pun jadi tenang. Di sisi lain ketika beraktivitas orang-orang disekitar kita sangat peduli dengan ibu hamil, selalu diberi kemudahan agar si ibu hamil ini tidak terlalu capek apalagi kalu hamil tua.
Inilah hal-hal baru yang kita rasakan, merasakan kasih sayang orang lain yang dilimpahkan kepada ibu hamil. Cobalah ketika kebetulan anda naik bus umum yang telah penuh saat anda hamil besar, dan anda terpaksa berdiri karena kursi sudah penuh, apa yang akan anda lihat? Anda akan ditawarkan untuk duduk di kursi dekat anda berdiri, atau kalau pun tidak, pasti penumpang yang berdiri lainnya mengingatkan ke penumpang yang duduk untuk memberi kesempatan anda untuk duduk. Special bukan?? Kemudian ketika di pasar anda belanja, anda sedang hamil membawa barang belanjaan yang cukup berat, orang-orang melihat anda kerepotan, tanpa diminta pun, orang-orang pasti mengulurkan tangan untuk membantu anda. Lagi-lagi karpet merah. Moment lainnya, ketika anda mengantri, entah mengantri di toilet, membeli tiket, antri di kasir, anda setidaknya akan mendapatkan orang di depan anda untuk memberi kesempatan anda untuk terlebih dulu. Ya itulah salah satu kenikmatan tersendiri, selalu ada karpet merah untuk ibu hamil.

Saturday, October 6, 2012

Apa itu Masyarakat?


Apa itu masyarakat. Kata masyarakat berasal dari bahasa Arab musyarakah, mujtama’. Ibn manzur dalam lisan al’Arab mempunyai arti pokok dari segala sesuatu, yaitu tempat dimana tumbuhnya keturunan dan kumpulan dari orang banyak yang berbeda-beda. Musyarakah mengandung arti berserikat, bersekutu, dan saling bekerjasama. Jadi masyarakat adalah sekumpulan orang-orang yang berbeda-beda tapi menyatu dalam ikatan kerjasama, dan mematuhi peraturan yang telah disepakati bersama. Jika ditinjau dari anatomi dari masyarakat yang berbeda-beda. Seringkali kta jumpai missal masyarakat desa, masyarakat kota, adat istiadat, jenis kulit, dan lain sebagainya.

Dari pernyataan tersebut masyarakat terdiri dari elemen-elemen yang berbeda tapi mereka menyatu dalam sat tatanan sebagai wujud dari kehendak bersama. Berbhineka tunggal ika: berbeda-beda tapi tetap satu jua. Masyarakat Indonesia, apakah mereka sudah menyatu dalam kesatuan? Ternyata cek per cek sudah setengah abad merdeka belum cukup waktu untuk menyatukan sebuah masyarakat Indonesia meskipun sudah diwadahi dengan kalimat Binneka Tunggal Ika. Masyarakat Indonesia sebagai satu kesatuan nampaknya masih merupakan nation in making. Hambatan dari prose situ tidak lain adalah adanya rujukan dan kepentingan yang berbeda-beda.

Jadi kesimpulannya bahwa masyarakt itu harus dibentuk kepribadian yang matang pada diri pribadi masing-masing sehingga tidak ada hambatan untuk bersatu demi nasib bangsa Indonesia. Serta saling memberi manfaat satu sama lain sehingga tidak ada lagi kata perbedaan.

Friday, October 5, 2012

Laba-laba Penyamar Yang Ulung




Warna bunga dan laba-laba di gambar ini benar-benar serupa. Begitu miripnya sehingga beberapa serangga mengira laba-laba adalah bunga dan mendarat di atasnya. Kekuatan yang membuat kedua makhluk hidup ini betitu bersesuaian satu sama lain, dengan warna yang identik, adalah Tuhan.
Laba-laba Penyamar Yang Ulung. Bertentangan dengan kepercayaan umum, banyak jenis laba-laba berburu tanpa membangun jaring. Salah satunya adalah Laba-laba kepiting. Ia menyamarkan dirinya pada bunga-bungaan dan menyantap lebah-lebah yang hinggap padanya.

Dengan menggunakan kemampuannya, laba-laba kepiting merubah warna tubuhnya menjadi kuning atau putih sesuai warna bunga. Kakinya disembunyikan dengan sempurna ditengah-tengah bunga dan bersiap diri menunggu mangsa. Warna tubuhnya menyamai warna bunga tempat ia bersembunyi dengan sempurna. Hanya dengan perhatian yang saksama saja laba-laba ini dapat dibedakan dari bunga tempat persembunyiannya.

Laba-laba ini beraksi ketika seekor lebah hinggap untuk menghisap madu dari bunga dimana ia siap menyergap. Pada ketika itu, laba-laba secara perlahan-lahan merangkulkan kaki-kakinya ke tubuh lebah, kemudian dengan gerakan cepat menggigit kepala lebah dan menyuntikan bisa langsung ke otak mangsanya. Setelah itu, ia memakan korbannya. Laba-laba dapat menyamarkan dirinya pada bunga dengan begitu cerdik sehingga kupu-kupu atau lebah kadang hinggap tepat di atasnya tanpa menyadarinya.

Apakah laba-laba bisa berubah warna karena kejadian yang kebetulan? Apakah ia mempelajari bunga-bunga kemudian menyalin warnanya dan kemudian merubah warna tubuhnya? Jelas bahwa laba-laba tidak memiliki kemampuan seperti itu. Selain beberapa pusat syaraf, ia bahkan tidak memiliki otak untuk berpikir. Lebih dari itu, laba-laba adalah mahluk yang buta warna. Ia tidak mengetahui warna putih atau pun merah muda. Bahkan jika kita beranggapan bahwa ia mampu menyesuaikan warna tubuhnya, mustahil baginya membuat warna tersebut di dalam tubuhnya sendiri. Tuhan Yang Maha Perkasa lah yang membuat laba-laba mampu membedakan dan menghasilkan warna-warna.


 


Di samping memiliki bayangan warna yang sama dengan bunga yang mereka diami, beberapa laba-laba bahkan mempunyai pola yang sama.
Laba-laba Caerostis berburu di malam hari. Pada saat fajar ia membongkar jaringnya dan menunggu malam datang lagi. Ranting yang diserupainya, di mana ia berada sepanjang hari, menyamarkannya.
Laba-laba (atas) tetap menyerupai pasir yang ia lewati. Orang harus melihat dengan sangat saksama untuk membedakan laba-laba itu dari latar belakangnya.

Jelas bahwa Tuhan telah menciptakan laba-laba dengan kemampuan untuk menyesuaikan warna tubuhnya dengan warna bunga. Keadaannya bagaikan dua gambar yang dibuat dalam kanvas yang sama, dengan cat-cat yang sama dan disapu dengan warna dan nuansa yang sama, dan sangat bersesuaian sehingga tidak dapat dijelaskan oleh dongeng tentang 'kejadian yang kebetulan'

Sumber: info@Harunyahya[com]