Pages

Saturday, September 22, 2012

Abul Hassan Ali Al-Hasani An-Nadwy


Abul Hassan Ali Al-Hasani An-Nadwy. Abul Hassan Ali Al-Hasani An-Nadwy putra Adul Hayyi Alhasani di desa RAY BARELLY pada bulan Muharram 1332H. beliau dilahirkan dari keluarga yang kuat menjadi tauhid, tuntunan Nabi dan amat keras dalam memerangi bid’ah demi menegakkan agama Allah dan jihad fisabilillah.
Sejak kecil beliau telah mendalami pengetahuanny dalam Islam. Beliau belajar di Nadwah Al-Ulama, dan juga dari beberapa orang ulama besar yang terkenal di Deoband dan di Lahore.
Buku beliau pertama kali yang bahasa Arab berjudul riwayat hidup Imam Ahamad in Irfan yang shahid ditulis dan diterbitkan oleh Sayid Rasyid Ridha pada tahun 1931, ketika beliau berum ur 16 tahun. Kemudian beliau diangkat sebagai dosen tafsir dan sastra Arab di Ma’had Darul Ulum Nadwatul Ulama selama beberapa tahun-dimana beliau pernah belajar di tempat ini di masa kecilnya. Selama Itu beliau pernah diangkat menjadi pimpinan redaksi Majalah Ilmiah “AN NADWAH”.
Pada tahun 1361H beliau pernah memberikan ceramah di Millia Islamic University dengan judul “Agama dan kemajuan”. Beliau banyak mengarang kitab Bahasa Arab terutama untuk murid Madrasah Islamiyah seperti kitabnya yang bernama “Mukhtaraat Min Adabil Arab”. Kitab tersebut banyak dipakai sebagai buku pegangan untuk universitas –universitas Islam baik di India maupun di Arab. Disamping itu beliau juga mengarang kitab hikayat para Nabi dan Qiraatur Rasyidah. Kedua kitab ini merupakan bacaan yang baik untuk anak-anak yang ingin belajar bahasa Arab. Kedua kitab tersebut ditulis dalam bahasa Arab.
Di kota Lucknow-utara India-beliau mendirikan Islamic Research and publication pada tahun 1378H. kegiatan beliau yang paling menonjol adalah giat dalam pergerakan dakwah Islamiah di India. Untuk itu beliau juga sering keluar negeri untuk memberikan cermah-ceramah agama dan ilmiah di berbagai Negara  Arab, Eropa, dan amerika.
Tahun 1364H beliau menulis kitab yang paling terkenal ditengah duni Islam dengan judul “Maza haziral Alam Bi Intihaatil Muslimin” (kerugian dunia dengan runtuhnya Umat Islam). Kitab tersebut diterbitkan di Mesir tahun 1369H/1950. Kitab ini masih mengalami cetak ulang berkali-kali. Karena banyak digemari oleh kauk muslimin. Setiap kali terbit selalu mendapatkan kata pengantar dari penulis-penulis Islam yang terkenal. Tahun 1380H beliau diangkat menjadi wakil Ma’had Darul Ulum Nadwatul sekarag.
Tahun 1957 beliau diangkat menjadi anggota lembaga Ilmu pengetahuan Arab di Kota Dammascus. Selain itu beliau juga diangkat anggota majelis Ta’sisi Rabitah Al-Alamil Islamy di Mekkah sejak tahun 1380 H (198 M) dan sebagai anggota Majelis A’la di Universitas Islam Madinah. Sejak tahun 1959 eliau diangkat sebagai ketua Lembaga Pendidikan Agama di seluruh wilayah utara India. Hingga kini beliau sempat mengarang sebanyak enampuluh buku lebih yang ditulis dalam bahasa Arab maupun bahasa Urdu.

Sumber: Riwayat Hidup Rasulullah
Terjemah: H.Bey Arifin & Yunus Ali Muhdhar

Saturday, September 8, 2012

Menguji Hipotesis


Menguji Hipotesis. Sesudah hipotesis dirumuskan, hipotesis tersebut kemudian diuji secara empiris dan tes logika. Untuk menguji suatu hipotesis, peneliti harus:
1.    Menarik kesimpulan tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan dapat diamati apabila hipotesis tersebut benar.
2.    Memilih metode-metode penelitian yang mungkin pengamatan, eksperimental, atau prosedur lain yang diperlukan untuk menunjukkan apakah akibat-akibat tersebut terjadi atau tidak.
3.    Menerapkan metode ini serta mengumpulkan data yang dapat dianalisis untuk menunjukkan apakah hipotesis tersebut didukung oleh data  atau tidak.
Prosedur pengujian hipotesis statistik adalah langkah-langkah yang digunakan dalam menyelesaikan pengujian hipotesis tersebut. Langkah-langkah pengujiannnya adalah:
1.    Menentukan Formulasi Hipotesis
Formulasi atau perumusan hipotesis statistik dapat dibedakan atas dua jenis yaitu Hipotesis Nol (nihil) yang disingkat Ho, dan Hipotesis Alternatif (tandingan) yang disingkat Ha.
2.    Menentukan Taraf Nyata (Significant Level)
Taraf nyata adalah besarnya batas toleransi dalam menerima kesalahan hasil hipotesis terhadap nilai parameter popolasinya. Taraf nyata disimbol dengan , Semakin tinggi taraf nyata maka semakin tinggi tinggi pula penolakan hipotesis nol atau hipotesis yang diuji, padahal hipotesis nol benar.
Besarnya nilai taraf nyata tergantung pada keberanian pembuat keputusan yang dalam hal ini berapa besarnya kesalahan yang akan ditolerir .
Nilai  yang dipakai sebagai taraf nyata digunakan untuk menentukan nilai distribusi yang digunakan pada pengujian, misalnya distribusi normal, distribusi t, dan distribusi chi kuadrat. Nilai ini telah disediakan dalam table yang disebut nilai kritis.
3.    Menentukan criteria pengujian
Kriteria pengujian adalah bentuk pembuatan keputusan dalam menerima atau menolak hipotesis nol, dengan cara membandingkan  table distribusinya dengan nilai uji statistiknya, sesuai dengan bentuk pengujiannya.
4.    Menentukan nilai Uji Statistik
Uji statistik merupakan rumus-rumus yang berhubungan dengan distribusi tertentu dalam pengujian hipotesis. Uji statistik merupakan perhitungan untuk menduga parameter data sampel yang diambil secara random dari sebuah populasi.
5.    Membuat kesimpulan
Pembuatan kesimpulan merupakan penetapan keputusan dalam hal penerimaan atau penolakan hipotesis nol (Ho), sesuai dengan kriteria pengujiannnya.

Rferensi,
blogbahruldot]wordpress[dot]com/perumusan Hipotesis/
fuddin[dot]wordpressdot]com/Hipotesis Penelitian Pendidikan/
lubisgrafura[wordpress[dot]com/Hipotesis Penelitian Pendidikan/
pendidikansains[dot]blogspot[dot]com/ Hipotesis Penelitian Pendidikan/

Karakteristik Hipotesis


Karakteristik Hipotesis. Sesudah hipotesis untuk sementara dirumuskan maka, sebelum pengujian yang sebenarnya dilakukan, potensi hipotessi itu sebagai alat penelitian harus dinilai terlebih dahulu. Hipotesis harus memenuhi kriteria penerimaan tertentu. Harga terakhir suatu hipotesis tidak dapat dinilai sebelum dilakukan pengujian empiris, namun ada beberapa kriteria tertentu yang dapat memberikan ciri hipotesis yang baik. Peneliti hendaknya menggunakan kriteria-keriteria tersebut untuk menilai kelayakan hipotesis yang diajukan.

1.    Hipotesis harus mempunyai daya penjelas
Suatau hipotesis harus merupakan penjelasan yang mungkin mengenai apa yang seharusnya diterangkan. Ini adalah ktriteria yang sudah jelas dan penting. Sebagi contoh, misalkan anda mencoba menstater mesin mobil anda, ternyata mesin tidak mau hidup. Hipotesis yang menyatakan bahwa mesin tidak mau hidup karena anda membiarkan air dikamar madi mengalir keselokan, bukan merupakan penjelasan tepat. Hipotesis yang mengatakan bahwa akinya mati adalah penjelasan yang tepat dan perlu diuji.

2.    Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada diantara variabel-variabel
Suatu hipotesis harus menerka atau menduga hubungan antara dua atau lebih variabel. Dalam contoh kita diatas, tidak ada gunanya kita menyatakan bahwa “mesin mobil tersebut tidak akan hidup dan mesin mobil itu mempiunyai jaring-jaring kabel”. Karena sama sekali tidak ada hubungan antara variabel-variabel yang disebutkan itu. Sehingga tidak ada hubungan yang akan diajukan untuk diuji.
Hipotesis yang baik akan berbunyi “mesin mobil tidak mau hidup karena ada ketidak bersan pada jaringan kabelnya”. Kelihatannya kriteria ini sangat jelas tetapi lihat pernyataan berikut ini apabila anak-anak berbeda satu sama lain dalm konsep diri, mereka akan berbeda satu sama lain pula dalam hasil belajar ilmu pengetahuan sosial. Pernyataan ini tampaknya seperti suatu hipotesis, sampai anda sadar bahwa tidak ada pernyataan apapun tentang hubungan yang diharapkan.
Hubungan yang diharapkan dapat dituliskan dalam bentuk pernyataan konsep diri yang tinggi mungkin merupakan penyebab hasil belajar yang lebih tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan sosial. Hipotesis itu kemudian dirumuskan akan terdapat hubungan positif atara konsep diri dan hasil belajar ilmu pengetahuan sosial. Jika yang diramalkan adalah yang sebaliknya yakni konsep diri yang lebih tinggi menjurus pada hasil belajar ilmu pengetahuan sosial yang lebih rendah, maka hipotesis itu akan berbunyi akan terdapat hubungan negatif antara konsep diri dan hasil belajar ilmu pengetahuan sosial. Kedua pernyataan itu masing-masing akan memenuhi kriteria yang kedua ini.

3.    Hipotesis harus dapat diuji
Dikatakan bahwa sifat terpenting dari hiotesis yang baik adalah kemampuannya untuk diuji. Suatu hipotesis yang dapat diuji berarti daat ditahkikan (verifiable)  artinya, deduksi, kesimpulan, dan prakiraan dapat ditarik dari hipotesis tersebut sedemikian rupa, sehingga dapat dilakukan pengamatan empiris yang akan mendukung atau tidak mendukung hipotesis tersebut. Kalau hipotesis ini benar, maka beberapa akibat tertentu yang dpaat diramalkan harus tampak nyata. Hipotesis yang dapat diuji memungkinkan peneliti menetapkan, berdasarkan pengamatan, apakah akibat yang tersirat secara deduktif itu benar-benar terjadi atau tidak. Kalau tidak demikian tidak mungkin kita akan dapat mengukuhkan atau tidak mengkuhakan hipotesis tersebut. Dalam contoh kita, hipotesis yang berbunyi “kerusakan mesin mobil itu adalah hukuman dosa-dosa saya“ rupanya tidak dapat diuji didunia ini.
Banyak hipotesis tau proposisi (pernyataan) yang pada dasarnya tidak dapat diuj. Misalnya hipotesis pendidikan taman kanak-kanak meningkatkan penyesuaian diri anak sekolah dasar secara menyeluruh“ akan sangat sulit diuji karaena sangat sulit merumuskan dan mengukur penyesuaian diri secara menyeluruh ini. Contoh yang lain hipotesis yang berbunyi “penggunaan karya Ditto dalam mata pelajaran seni, mematikan kreatifitas seni anak“, dalam hal ini kesulitan itu dapat berupa perumusan dan pengukuran kreativitas seni, disamping petnetapan kriteria untuk mentukan apakah telah terjadi proses pematian kreativitas atau tidak.
Agar dapat diuji hipotesis harus menghubungkan variabel-variabel yang dapat diukur. Apabila tidak terdapat alat atau cara untuk mengukur variabel-variabel itu, maka kita tidak mungkin dapat mengumpulkan data yang diperlukan untuk menguji validitas hipotesis tersebut. Ini tidak melebih-lebihkan, jika peneliti dapat merumuskan secara spesifik indikator tiap-tiap variabel dan kemudian mengukur variabel-variabel ini, maka hipotesis itu tidak dapat diuji.
Indikator variabel tersebut disebut batasan operasional. Seperti telah diterangkan sebelumnya batasan operasional adalah batasan yang menetapkan suatu variabel dengan menyatakan opresi atau prosedur yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut. Sebagai contoh hipotesis yang berbunyi “ada hubungan positif antara rasa harga diri anak dan hasuil belajar membacanya di kelas satu”. Agar hipotesis ini memenuhi kriteria dapat diterima, maka variabel-variabel dalam hipotesis ini harus didefenisikan secara operasional. Rasa harga diri mungkin dirumuskan sebgai skor yang diperoleh pada skal harga diri (menurut Coppersmith), sedangkan hasil belajar membaca dirumuskan sebagai skor yang diperoleh pada tes membaca dari california atau penilaian hasil belajar membaca yang dilakukan oleh guru-guru kelas satu.
Pertimbangan pertama dalam perumusan hipotesis adalah memastikan vabhwa variabel-variabel dalam hipotesis tersebut telah diberi batasan secara operasional. Hindarilah pemakaian pengertian yang akan sulit atau tidak mungkin diukur secara memadai. Pengertian-pengertian seperti kreativitas, otoriterisme, demokrasi, dan sebagainya telah mempunyai arti yang macam-macam, sehingga kesepakatan mengnai batasan-batasanoperasioanl konsep semacam itu akan sulit dicapai, atau bahkan tidak mungkin salma sekali. Ingatlah bahwa variabel harus dirumuskan berdasarkan tingkah laku yang dapat diidentifikasi dan diamati.
Perlu dihindari adanya pernyataan nilaidalam hipotesis. Pernyataan seperti suatu program penyuluhan di sekolah dasar sangat diperlukan tidak dapat diselidiki dalam studi penelitian. Akan tetapi hipotesis murid-murid SD yang telah menerima penyuluhan akan mengungkapkan secara lisan rasa puas yang lebih besar terhadap sekolah mereka dari pada mereka yang tidak menerima penyuluhan, ini merupakan hipotesis yang dapat diuji. Kita dapat mengukur kepuasan secara lisan, tetapi apakah hal tersebut diperlukan atau tidak, hal tersebut merupakan pertimbangan nilai.

4.    Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada
Hipotesis yang dikemukakan hendaknya tidak bertentangan dengan hipotesis, teori, dan hukum-hukum yang sebelumnya sudah mapan. Hipotesis “mobil saya tidak mau hidup karena air akinya berubah menjadi emas“, pernytaan ini memenuhi tiga kriteria yang pertama, tetapi bertentangan dengan apa yang diketahui orang tentang sifat-sifat benda, sehingga orang tidak akan menyelidiki hipotesis tersebut. Hipotesis “mobil itu tidak mau hidup karena air akinya telah meluap sampai ketingkat rendah” sesuai atau konsisten dengan pengetahuan sebelumnya, dan karena itu perlu diselidiki. Mungkin tidak akan ada gunanya membuat hipotesis tentang tiadak adanya hubungan antara konsep diri anak-anak remaja dan kecepatan pertumbuhan badan mereka, karena bukti-bukti yang mendukung hubungan semacam itu sudah terlalu banyak.
Didalam sejarah ilmu pengetahuan diketahui bahwa orang-orang seperti Einstein, Newton, Darwin, Copernicus, dan lain-lainnya telah mengmabngkan hipotesis yang benar-benar revolusioner dan bertentangan dengan pengetahuan yang telah diterima orag pada masa itu. Tetapi, harus diingat bahwa karya para pelopor itu bukan merupakan penolakan sama sekali terhadap pengethuan sebelumnya, karena penemuan mereka merupakan penataan kembali pengetahuan terdahulu menjadi teori yang lebih memuaskan. Dalam banyak hal, terutama bagi peneliti pemula, dianjurkan agar hipotesis yang akan dibuat disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah mapan dibidang itu. Sekali lagi, hal ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan kepustakaan yang mendalam, sehingga hipotesis-hipotesis itu akan dapat dirumuskan berdasarkan penelitian-penelitian dibidang tersebut yang telah dilaporkan sebelumnya.

5.    Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin
Menyatakan hipotesis secara sederhana bukan saja memudahkan pengujian hipotesis tersebut, melainkan juga dapat menjadi dasar bagi enyusunan laporan yang jelas dan mudah dimengerti pada akhir penyelidikan. Seringkali kita perlu memecah hipotesis yang sangat umum menjadi beberapa hipotesis khusus, agar menjadi jelas dan dapat diuji. Juga disarankan agar bahasa atau istilah yang dipakai dalam hipotesis tersebut sederhana, sehingga dapat diterima untuk menyampaikan maksud yang dikehendaki.
Banyak rumusan hipotesis yang ditolak sesudah diuji secara empiris. Hipotesis tersebut adalah ramalan yang tidak didukung oleh data. Dalam sejarah enelitian ilmiah, hipotesis yang tidak berhasil didukung oleh data jauh lebih banyak dari pada hipotesis yang didukung oleh data. Para peneliti yang telah berpengalaman sadar bahwa hipotesis yang ditolak itu merupakan bagian dari pengalaman ilmiah yang telah diperkirakan dan juga berguna. Hipotesis yang ditolak itu dapat menyebabkan ditinjaunya kembali teori itu dan sering dapat meberikan  keterangan yang lebih dekat danlebih besar mengenai keadaan yang sebenarnya.
Hipotesis yang tidak didukung oleh data apapun mungkin ada gunanya, karena hipotesis tersebut menunjukkan perlunya dipertimbangkan aspek-aspek lain dari suatu masalah. Dengan demikian dapat membawa peneliti selangkah lebih dekat kepada penjelasan yang dapat diterima. Dalam merumuskan hipotesis yang pertama harus diperhatikan adalah menghindari kekaburan atau ketidakjelasan.
Meskipun suatu hipotesis telah mendapat dukungan data, tidak berarti bahwa hipotesis tersebut terbukti benar, kecuali dalam hal induksi sempurna. Hipotesis tidak pernah terbukti. Hipotesis hanya dapat dinyatakan didukung atau tidak didukung oleh data. Hipotesis pada dasarnya bersifat mungkin, bukti-bukti empiris yang diperoleh dapat membuat peneliti berkesimpulan bahwa penjelasan tersebut mungkin benar, atau bahwa ia pantas menerima hipotesis tersebut, tetapi tidak pernah membuktikan hipotasis.

Rferensi,
blogbahruldot]wordpress[dot]com/perumusan Hipotesis/
fuddin[dot]wordpressdot]com/Hipotesis Penelitian Pendidikan/
lubisgrafura[wordpress[dot]com/Hipotesis Penelitian Pendidikan/
pendidikansains[dot]blogspot[dot]com/ Hipotesis Penelitian Pendidikan/

Fungsi Hipotesis


Fungsi Hipotesis. Fungsi atau kegunaan hipotesis yang disusun dalam suatu rencana penelitian, setidaknya ada empat yaitu:
1.    Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
Untuk dapat sampai pada pengetahuan yang dapat dipercaya mengenai masalah pendidikan, peneliti harus melangkah lebih jauh dari pada sekedar mengumpukan fakta yang berserakan, untuk mencari generalisasi dan antar hubungan yang ada diantara fakta-fakta tersebut. Antar hubungan dan generalisasi ini akan memberikan gambaran pola, yang penting untuk memahami persoalan. Pola semacam ini tidaklah menjadi jelas selama pengumpulan data dilakukan tanpa arah. Hipotesis yang telah terencana dengan baik akan memberikan arah dan mengemukakan penjelasan. Karena hipotesis tersebut dapat diuji dan divalidasi (pengujian kesahiannya) melalui penyelidikan ilmiah, maka hipotesis dapat mebantu kita untuk memperluas pengetahuan.
2.    Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji dalam penelitian
Pertanyaan tidak dapat diuji secara langsung. Penelitian memang dimulai dengan suatu pertanyaan, akan tetapi hanya hubungan antara variabel yang akan dapat duji. Misalnya, peneliti tidak akan menguji pertanyaan apakah komentar guru terhadap pekerjaan murid menyebabkan peningkatan hasil belajar murid secara nyata“? akan tetapi peneliti menguji hipotesis yang tersirat dalam pertanyaan tersebut “komentar guru terhadap hasil pekerjaan murid, menyebabkan meningkatnya hasil belajar murid secara nyata“ atau  yang lebih spesifik lagi “skor hasil belajar siswa yang menerima komentar guru atas pekerjaan mereka sebelumnya akan lebih tinggi dari pada skor siswa yang tidak menerima komentar guru atas pekerjaan mereka sebelumnya“. Selanjutnya peneliti, dapat melanjutkan penelitiannya dengan meneliti hubngan antara kedua vatiabel tersebut, yaitu komentar guru dan prestasi siswa.
3.    Hipotesis memberikan arah kepada penelitian
Hipotesis merupakan tujuan khusus. Dengan demikian hipotesis juga menentukan sifat-sifat data yang diperlukan untuk menguji pernyataan tersebut. Secara sangat sederhana, hipotesis menunjukkan kepada para peneliti apa yang harus dilakukan. Fakta yang harus dipilih dan diamati adalah fakta yang adahubungann nya dengan pertanyaan tertentu. Hipotesislah yang mentukan relevansi fakta-fakta itu. Hipotesis ini dapat memberikan dasar dalam pemilihan sampel serta prosedur penelitian yang harus dipakai. Hipotesis jufga dapat menunjukkan analisis satatistik yang diperlukan dan hubungannya yang harus menunjukkan analisis statistik yang diperlukan agar ruang lingkup studi tersebut tetap terbatas, dengan mencegahnya menjadi terlalu sarat.
Sebagi contoh, lihatlah kembali hipotesis tentang, latihan pra sekolah bagi anak-anak kelas satu yang mengalami hambatan kultural. Hipotesi ini menunjukkan metode penelitian yang diperlukan serta sampel yang harus digunakan. Hipotesis inipun bahkan menuntun peneliti kepada tes statistik yang mungkin diperlukan untuk menganalisis data. Dari pernyataan hipotesis itu, jelas bahwa peneliti harus melakukan eksperimen yang membandingkan hasil eblajr dikelas satu dari sampel siswa yang mengalami hambatan kultural dan telah mengalami program pra sekolah dengan sekelompok anak serupa yang tidak mengalami progaram pra sekolah. Setiap perbedaan hasil belajar rata-rat kedua kelompok tersebut dapat dianalaisis denga tes atai teknik analis variansi, agar dapat diketahui signifikansinya menurut statistik.
4.    Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan.
Akan sangat memudahkan peneliti jika mengambil setiap hipotesis secara terpisah dan menyatakan kesimpulan yang relevan dengan hipotesis tersebut. Artinya, peneliti dapat menyusun bagian laporan tertulis ini diseputar jawaban-jawaban terhadap hipotesis semula, sehingga membuat penyajian ini lebih berarti dan mudah dibaca.
Penetapan hipotesis dalam sebuah penelitian memberikan manfaat sebagai berikut:
1.    Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
2.    Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
3.    Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
4.    Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.
Oleh karena itu kualitas manfaat dari hipotesis tersebut akan sangat tergantung pada:
1.    Pengamatan yang tajam dari si peneliti terhadap fakta-fakta yang ada.
2.    Imajinasi dan pemikiran kreatif dari si peneliti.
3.    Kerangka analisa yang digunakan oleh si peneliti.

Referensi,
blogbahruldot]wordpress[dot]com/perumusan Hipotesis/
fuddin[dot]wordpressdot]com/Hipotesis Penelitian Pendidikan/
lubisgrafura[wordpress[dot]com/Hipotesis Penelitian Pendidikan/
pendidikansains[dot]blogspot[dot]com/ Hipotesis Penelitian Pendidikan/

Pengertian Hipotesis


Pengertian Hipotesis. Istilah hipotesis berasal dari bahasa Yunani, yaitu hupo dan thesis. Kata hupo berarti lemah, kurang, atau di bawah, sedangkan thesis, berarti teori, proposisi, atau pernyataan yang disajikan sebagai bukti. Sehingga hipotesis dapat diartikan sebagai suatu pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan perlu dibuktikan atau dugaan yang isfatnya masih sementara.
Trealese (1960) memberikan definisi hipotesis sebagai suatu keterangan sementara dari suatu fakta yang dapat diamati.
Good dan scates (1954) menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah selanjutnya.
Kerlinger (1973) menyatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari hubungan antara dua atau lebih variabel. Jadi hipotesis adalah hasil dari tinjauan pustaka atau proses rasional dari penelitian yang telah mempunyai kebenaran secara teoritik. Namun demikian kebenaran hipotesis masih harus diuji secara empirik. Oleh karena itu, hipotesis juga dianggap sebagai jawaban sementara terhadap masalah yang telah dirumuskan dalam suatu penelitian dan masih perlu diuji kebenarannya dengan menggunakan data empirik.
Apabila  peneliti telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, maka lalu membuat suatu teori sementara, yang kebenarannya masih perlu di uji. Sehingga peneliti akan bekerja berdasarkan hipotesis yang diajukan. Peneliti mengumpulkan data-data yang paling berguna untuk membuktikan hipotesis. Berdasarkan data yang terkumpul, peneliti akan menguji apakah hipotesis yang dirumuskan dapat naik status menjadi teori, atau sebaliknya tumbang sebagai hipotesis, apabila ternyata tidak terbukti.
Hipotesis merupakan, yakni dugaan yang mungkin benar, atau mungkin juga salah. Dia akan ditolak jika salah atau palsu, dan akan diterima jika faktor-faktor membenarkannya. Penolakan dan penerimaan hipotesis, dengan begitu sangat tergantung kepada hasil-hasil penyelidikan terhadap faktor-faktor yang dikumpulkan.
Hipotesis adalah hasil proses teoretik atau proses rasional yang berbentuk pernyataan tentang karakteristik populasi. Hipotesis juga merupakan  jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian yang ada pada perumusan masalah penelitian. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan teori yang relevan, belum didasarkan atas fakta-fakta empiris yang diperoleh dari pengumpulan data. Sebagai hasil proses teori yang belum berdasarkan atas fakta, maka hipotesis masih perlu diuji kebenarannya dengan data empiris.
Hipotesis dapat juga dipandang sebagai konklusi yang sifatnya sangat sementara. Sebagai konklusi sudah tentu hipotesis tidak dibuat dengan semena-mena, melainkan atas dasar pengetahuan-pengetahuan tertentu. Pengetahuan ini sebagian dapat diambil dari hasil-hasil serta problematika-problematika yang timbul dari penyelidikan-penyelidikan yang mendahului, dari renungan-renungan atas dasar pertimbangan yang masuk akal, ataupun dari hasil-hasil penyelidikan yang dilakukan sendiri. Jadi dalam taraf ini mahasiswa cukup membuat konklusi dari persoalan-persoalan yang diajukan dan merumuskannya dalam bentuk statemen (pernyataan). 
Setelah masalah penelitian berhasil dirumuskan dengan baik maka langkah berikutnya adalah mengajukan hipotesis yang didasarkan dari kajian mendalam teori-teori yang relevan dengan variabel-variabel penelitian. Agar sebuah kerangka teoretis meyakinkan maka argumentasi yang disusun dalam teori-teori yang dipergunakan dalam membangun kerangka berpikir harus merupakan pilihan dari sejumlah teori yang dikuasai secara lengkap dengan mencakup perkembangan terbaru.
Disamping itu, kerangka teori juga dapat dilakukan melalui pengkajian hasil-hasil penelitian yang relevan yang telah dilakukan peneliti lainnya. Hasil penelitian orang lain yang relevan dijadikan titik tolak penelitian kita dalam mencoba melakukan pengulangan, revisi, modidikasi, dan sebagainya.

Rferensi,
blogbahruldot]wordpress[dot]com/perumusan Hipotesis/
fuddin[dot]wordpressdot]com/Hipotesis Penelitian Pendidikan/
lubisgrafura[wordpress[dot]com/Hipotesis Penelitian Pendidikan/
pendidikansains[dot]blogspot[dot]com/ Hipotesis Penelitian Pendidikan/

Hipotesis


Hipotesis. Hipotesis adalah alat yang sangat besar kegunaannya dalam penyelidikan ilmiah. Hipotesis memungkinkan kita untuk menghubungkan teori dengan pengamatan, dan sebaliknya pengamatan dengan teori. Dewasa ini penggunaan hipotesis memungkinkan kita dalam usaha mencari pengetahuan, untuk memakai ide-ide para ahli filsafat induktif yang menekankan pengamatan, dan logika para ahli filsafat deduktif yang menekankan penalaran. Pemakaian hipotesis telah telah dapat menyatukan pengalaman dan penalaran sehingga menghasilkan suatu alat yang amat besar manfaatnya dalam mencari kebenaran.
Sesudah menemukan dan mengemukakan permasalahan serta memeriksa bahan pustaka yang berkaitan, peneliti siap untuk menyususn suatu hipotesis. Hipotesis yang dirumuskan secara tepat sebagai suatu pernyataan sementara yang diajukan untuk memecahkan suatu masalah, atau untuk menerangkan suatu gejala. Dalam bentuk sederhana, hipotesis mengemukakan pernyataan tentang harapan peneliti mengenai hubungan antara variable-variabel didalam suatu persoalan. Hipotesis tersebut kemudian diuji di dalam penelitian. Oleh karena itu, hipotesis ini diajukan hanya sebagai saran pemecahan bagi masalah tersebut. Dengan pengertian bahwa penyelidikan selanjutnya yang akan membenarkan atau menolaknya.
Sebagai contoh, seseorang dapat memulai dengan pertanyaan, apa peran persepsi anak-anak tentang diri mereka sendiri dalam proses belajar membaca?. Kemudian dari hal ini dapat dirumuskan suatu hipotesis bahwa ada hubungan positif antara persepsi anak-anak terhadap diri mereka sendiri dan hasil belajar membaca di kelas satu. Atau seseorang mungkin mulai dengan pertanyaan seperti, apa pengaruh latihan prasekolah terhadap hasil belajar anak-anak kelas satu yang memgalami hambatan kultur sekolah itu?. Hipotesisnya mungkin berbunyi, anak-anak yang mengalami hambatan cultural dan telah menerima latihan pra sekolah, akan memperoleh angka lebih tinggi di kelas satu dari pada anak-anak yang mengalami hambatan cultural tetapi tidak menerima latihan pra sekolah.
Dari kedua contoh di atas dapat dilihat bahwa hipotesis adalah suatu pernyataan yang menghubungkan dua variable. Dari contoh pertama, variable tersebut adalah persepsi diri dan hasil belajar membaca, sedangkan dalam contoh kedua, variable tersebut adalah latihan prasekolah dan hasil belajar di kelas satu. Dari uraian diatas tampak bahwa hipotesis sangatlah penting kedudukannya dalam suatu penelitian, untuk itu pada bagian berikut ini akan dibahas mengenai hal-hal yang berkaitan langsung dengan pengertian hipotesis, fungsi atau manfaat dari hipotesis, karakteristik hipotesis, jenis dan bentuk hipotesis, cara merumuskan hipotesis, dan secara ringkas mengenai prosedur pengujian hipotesis.

Rferensi,
blogbahruldot]wordpress[dot]com/perumusan Hipotesis/
fuddin[dot]wordpressdot]com/Hipotesis Penelitian Pendidikan/
lubisgrafura[wordpress[dot]com/Hipotesis Penelitian Pendidikan/
pendidikansains[dot]blogspot[dot]com/ Hipotesis Penelitian Pendidikan/

Tuesday, September 4, 2012

Menghadirkan Allah dalam Berbisnis


1. Terpenjara Ungkapan
Business is business, demikian ungkapan yang sering kita dengar dari sementara pelaku bisnis dalam memberi penegasan terhadap pengertian bisnis. Bahkan mereka yang bukan pe-bisnis-pun pandai pula mengucapkan ungkapan itu. Coba renungkan, apa betul kita sudah sepakat dengan apa yang dimaksud dengan ungkapan : bisnis adalah bisnis ?
Dalam kehidupan sehari-hari, bisnis lazim dimaknai sebagai sebuah kegiatan dalam menjalankan sebuah usaha atau transaksi dagang dalam berbagai bentuk yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan ( profit ) berupa uang atau materi lainnya yang dapat dijadikan uang. Singkatnya : melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang guna memenuhi tuntutan kebutuhan yang bernama : self interest.
Dalam dunia yang penuh dengan perburuan materi, tingkat keberhasilan seseorang sering kali diukur dari jumlah materi atau asset yang berhasil dikumpulkannya. Semakin banyak asset, semakin tinggi nilai keberhasilannya. Sebuah bentuk penilaian yang berorientasi kepada goal ( hasil akhir ) tanpa perlu melihat CARA atau PROSES yang ditempuh untuk memperoleh hasil tersebut.
Selaku seorang muslim yang mengaku beragama Islam, dapatkah kita sepakat dengan pemahaman tentang bisnis yang demikian? Benarkah kita ber-bisnis hanya demi uang ? Tidak adakah dimensi lain yang lebih luhur dari sekedar uang? Andaikata masih ada keraguan dalam menjawab pertanyaan diatas, saya khawatir sebetulnya kita sudah terperangkap dalam slogan ‘ bisnis adalah bisnis ‘ yang begitu mudah mengucapkannya tanpa paham akan maknanya…
II. Konsep Manusia dan Tenaga Kerja
Kehadiran manusia selaku khalifatullah dimuka bumi diberi amanah untuk menjaga seluruh isi alam dan menggubahnya sedemikian rupa agar memberi manfaat yang sebesar-besarnya terhadap kemaslahatan manusia dan kemanusiaan. Allah Maha Pencipta telah menyediakan segala macam unsur isi alam yang dibutuhkan sehingga manusia tidak perlu lagi bersusah payah menciptakan unsur-unsur baru kecuali menggabung beberapa unsur yang telah ada untuk melahirkan sebuah kesatuan baru.
Dengan akal yang dimilikinya, manusia berkesempatan menciptakan nilai tambah atas segala isi alam untuk dimanfaatkan secara bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab, penuh perhitungan dalam bentuk hasil produksi yang terencana. Hasil produksi ( baca : penghasilan, uang, harta ) dalam berbagai ujud bukanlah sebuah tujuan akhir melainkan harus dipersembahkan kembali manfaatnya secara adil kepada kelangsungan hidup manusia. Konsep kapitalisme yang terlanjur menjadi sebuah paham yang mendunia dalam bidang ekonomi sungguh tidak diragukan lagi jumlah penganutnya. Namun dapatkah kapitalisme menjamin terujudnya keadilan sosial bagi masyarakat luas ? Mampukah ia menjembatani jurang lebar antara penduduk dunia yang miskin dan yang kaya ?
Saat ini, didepan mata kita terpampang sebuah potret ketimpangan ekonomi yang sangat nyata buah kapitalisme yang ternyata jauh dari keadilan ekonomi yang bermuatan nilai-nilai spiritual illahiah. Kehampaan akan nilai-nilai illahiah itulah yang membuat si kaya merasa tidak peduli dengan si miskin. Sementara kecemburuan sosial yang dirasakan si miskin dapat menjurus menuju pertentangan dan perpecahan. Jadi, harus ada pertanggung-jawaban manusia kepada Allah Yang Maha Pencipta yang telah menganugerahinya dengan akal pikiran, ilmu pengetahuan, keahlian, dan kemampuan membuat nilai tambah. Apabila hal ini tidak dijadikan prasyarat terhadap konsep keberadaan manusia, maka sangat mungkin status ‘ khalifatullah ‘ hanyalah sebuah gelar kosong.
Jadi, unsur manusia dalam tatanan ekonomi yang ideal hendaknya tidak dilihat sebagai mesin pengumpul harta demi kekayaan pribadi, melainkan sebagai agen penyeimbang yang dapat membantu si miskin karena sesungguhnya dalam setiap butir harta yang dimiliki si kaya itu terdapat hak si miskin. ( to be continued )
Finaldo
http://finaldo77[dot]wordpress[dot]com/

Hambatan Perempuan Berbisnis


Perempuan memegang peranan dalam bisnis skala mikro, persentasenya bahkan 60 persen dibanding lelaki. Namun, pebisnis perempuan masih perlu didorong untuk mengatasi hambatannya dalam mengembangkan bisnisnya ke skala lebih besar.
Yanti Koestoer, Executive Director Indonesia Business Links (IBL), mengungkapkan bahwa eksistensi perempuan dalam dunia wirausaha masih rendah dibandingkan pria. Kondisi ini semakin meneguhkan anggapan bahwa dunia wirausaha identik dengan dunia lelaki. Padahal, tak sedikit perempuan yang terdorong berwirausaha.
“Pebisnis perempuan masih mengalami hambatan dalam menjalankan wirausahanya. Padahal, bisnis yang dijalankan perempuan masih bisa ditingkatkan ke level berikutnya,” papar Yanti kepada Kompas Female, di sela lokakarya bertema “Menguatkan Potensi Kewirausahaan bagi Perempuan Indonesia” bekerja sama dengan Indonesia Power, Action Coach, dan Unilever di Gedung Indonesia Power.
Selanjutnya, Yanti menjelaskan sejumlah hambatan yang masih dialami pebisnis perempuan:
Akses atas kredit
Persoalan akses permodalan memang dialami oleh hampir kebanyakan pengusaha skala kecil. Masalah jaminan, yang seringkali diminta perbankan untuk menyalurkan kredit usaha, menjadi hambatannya. Menurut Yanti, regulasi usaha mikro perlu berpihak pada pebisnis skala UKM untuk memberikan akses kredit atau permodalan.
Peran ganda
Kendala paling umum bagi perempuan bekerja adalah peran ganda. Tantangan bagi perempuan adalah menjalankan perannya dalam karier dan rumah tangga. Hal ini perlu dilihat sebagai tantangan, dan pebisnis pun harus profesional layaknya pekerja. Sebagian perempuan yang berbisnis menganggap usahanya adalah sampingan. Padahal berbisnis membutuhkan fokus dan konsentrasi, layaknya profesional.
Etika bisnis
Pebisnis perlu lebih banyak mendapatkan pengetahuan tentang etika bisnis. Misalnya, bagaimana menjalankan bisnis menguntungkan secara legal dan baik. Atau bagaimana menerapkan etika bisnis dalam memenangkan tender tanpa suap, dan berbagai etika lainnya yang perlu disosialisasikan lebih jauh kepada pebisnis.
Berikut kami berikan sebuah bisnis menarik untuk perempuan indonesia. Kenapa menarik? Bisnis dengan modal yang sangat kecil! Kami support anda sepenuhnya untuk marketing secara online. Mulai dari tutorial internet marketing, facebook marketing dll. Kami juga buatkan online shop secara gratis serta aplikasi untuk facebook. Lihat pengunjung web ini (resep.web.id) saat ini rata – rata 14.000 visitor per hari. Mau tau rahasianya? Mau ikut kami berbisnis online? Pasti! tidak akan menyita waktu anda.

Editor: din,kompas[dot]com, edit: resep

6 Hal Membuat Perempuan Susah Kaya

Sebagai orang yang baru bekerja, atau baru menikah, wajar bila Anda melakukan beberapa kesalahan dalam mengelola keuangan. Karena sedang menikmati masa lajang misalnya, Anda merasa bebas membelanjakan uang untuk apa saja. Karena baru menikah misalnya, Anda belum menemukan cara yang tepat untuk mengelola penghasilan bersama pasangan.
Namun, pada dasarnya ada beberapa langkah keuangan yang tidak dipahami perempuan, padahal langkah-langkah tersebut membuat mereka menjadi tidak memiliki kebebasan dalam hal keuangan, apalagi menjadi kaya. Anda ingin tahu contohnya?
Terlalu banyak belanja pakaian dan sepatu
Belanja pakaian dan sepatu jelas penting untuk membangun image mengenai diri kita. Namun, Anda tidak harus berbelanja busana, sepatu, atau tas rancangan desainer terkenal hanya supaya bisa diterima dalam lingkungan pergaulan, atau supaya bisa mendapatkan promosi di kantor. Anda masih bisa kok, terlihat menawan dengan budget yang terjangkau. Atau, ketimbang membeli beberapa pakaian dan sepatu yang murah, beli saja satu item rancangan desainer setiap bulan. Jika bulan ini Anda membeli satu pakaian, bulan depan bisa membeli tas.
Tak mau kalah dengan yang dimiliki orang lain
Baik pria maupun wanita punya kecenderungan untuk jor-joran dengan orang lain. Pria barangkali lebih sering bersaing dalam hal mobil, kamera, atau gadget lain. Kaum perempuan biasanya tak mau kalah dalam hal penampilan, atau juga gadget. Lebih menyedihkan lagi jika Anda melakukannya—lagi-lagi—hanya supaya bisa diterima dalam pergaulan. Akibatnya, Anda akan menghabiskan banyak uang untuk sesuatu yang Anda beli karena tuntutan dari luar, bukan karena kebutuhan Anda.
Belanja untuk memperbaiki mood yang buruk
Banyak perempuan mencoba meredakan stres dengan melakukan retail therapy. Enggak salah sih, kalau dengannya Anda berusaha mengatasi stres atau mood yang tidak menentu. Namun, mencari kompensasi melalui shopping bisa menjadi kebiasaan yang destruktif. Sebab, Anda bisa kehilangan uang dalam waktu yang singkat, bahkan menghasilkan utang. Coba buka kembali lemari pakaian Anda. Adakah pakaian yang belum pernah Anda pakai sejak Anda membelinya karena belakangan merasa kurang pas?
Hidup hanya untuk hari ini
Ketika teman-teman Anda mulai membuka deposito, asuransi pendidikan, mencicil rumah atau kendaraan, Anda masih saja sibuk dengan belanja fashion, makan-makan, atau liburan. Ketika ditanya mengapa tak mulai mencicil rumah, Anda mengatakan, “Ah, beli rumah kan urusan suami!” Bagaimana bila Anda tak kunjung menemukan pasangan, dan tiba-tiba Anda menyadari tak punya tabungan? Tiba-tiba saja Anda merasa ketakutan bila harus hidup sendiri sampai tua, dan tak punya pegangan lain selain pekerjaan saat ini. Bisakah Anda pensiun dengan layak? Hal itu harus Anda pikirkan sejak sekarang, bukan ketika Anda sudah mau pensiun.
Menggantungkan hidup pada suami atau orangtua
Dengan menikah, Anda berharap suamilah yang akan membayar semua kebutuhan atau melunasi utang-utang Anda. Akan tetapi, bagaimana bila kondisi keuangan suami tidak sebaik yang Anda bayangkan? Bagaimana bila ia sendiri menumpuk utang di mana-mana tanpa Anda ketahui? Bagaimana bila akhirnya Anda berpisah, dan ia tidak lagi menyokong keuangan Anda? Banyak juga pasangan muda saat ini yang masih menggantungkan hidupnya melalui pemberian “gaji” dari orangtua. Sampai kapan ketergantungan ini akan berlangsung? Jika sudah dewasa, maka Anda harus mampu bertanggung jawab terhadap diri Anda sendiri, termasuk dalam hal keuangan.
Bersikap rendah hati di kantor
Rendah hati bukan hal yang buruk. Namun, perempuan cenderung meminta gaji yang lebih rendah daripada pria di tempat kerja, dan hasilnya mereka pun digaji lebih rendah. Perempuan juga kurang berani meminta kenaikan gaji atau promosi. Perilaku yang asertif sering dianggap kurang baik, dan perempuan yang menerapkan sikap ini akan dianggap besar kepala. Jika Anda memang yakin dengan kemampuan Anda, maka tidak ada salahnya Anda mempertanyakan kenaikan jabatan atau insentif atas hasil kerja Anda. Jangan termakan anggapan bahwa karena perempuan adalah pencari nafkah kedua dalam rumah tangga, maka penghasilan bukan yang terpenting.

Sumber: MoneyNing,kompas[dot]com